Jakarta - Ino terlihat sedang berancang-ancang. Dari sebuah pelataran parkir, dia akan melompat ke sebuah jendela bekas bangunan diskotik Embassy. Jarak lompatannya hanya dua meter dari pelataran parkir, namun ketinggian jendela itu 5 meter dari tanah.
Ino pun berlari, dan hap! Tangannya mencengkram kuat kusen jendela bekas diskotik itu. Sementara kakinya merapat ke di dinding bangunan. Tubuh Ino pun menempel di sisi gedung bak seekor kucing.
Atraksi melompat yang dilakukan Ino di kawasan Taman Ria Senayan, adalah latihan parkour yang sejak 3 tahun dilakoninya. Lompatan yang dilakukannya tersebut dalam istilah parkour disebut cat leap, lompatan kucing. "Itu gaya lompatan seperti kucing," jelas Ino saat berbincang-bincang dengan detikcom, Sabtu (8/5/2010).
Sebelum melompat ke gedung tersebut, Ino harus berlari dengan kencang sepanjang 4 meter agar bisa mencapai gedung yang berjarak 2 meter tersebut. Dalam parkour, kata Ino, jarak untuk berlari berbeda-beda. Semakin jauh jarak lompatan, semakin jauh juga ancang-ancangnya. Nah, jika jaraknya pendek, misalnya 1-2 meter, jarak larinya cukup 3-4 meter.
"Tapi untuk ukuran manusia, jarak maksimal lompatan yang bisa dilakukan 6 meter. Itu pun hanya bisa dilakukan oleh orang bule. Sebab badan mereka tinggi dan kakinya panjang sehingga bisa melompat lebih jauh dari rata-rata orang Asia," terang Ino, yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan di Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Dijelaskan Ino, untuk melakukan aksi cat leap tidak bisa sembarangan. Bagi traceur atau traceusse (pegiat parkour pria atau wanita) yang masih pemula, aksi ini sulit dilakukan. Soalnya membutuhkan teknik tingkat tinggi serta mental yang kuat. Untuk itu, imbuh Ino, aksi lompatan kucing ini biasanya dilakukan oleh pegiat parkour yang sudah senior, paling tidak sudah menekuni kegiatan ini selama 3 tahunan.
Namun Ino menyayangkan, saat ini ia dan teman-temannya tidak lagi bisa berlatih di Taman Ria Senayan. Padahal lokasi di sana dianggap sangat mumpuni untuk berlatih. "Di Taman Ria Senayan banyak bangunan yang seru untuk dilompati. Sehingga kita bisa berlatih mengembangkan teknik-tekhnik parkour di sana," jelasnya.
Setelah gedung-gedung Taman Ria Senayan diratakan untuk dibangun mal oleh Lippo Grup, Ino dan kawan-kawan berlatih di Widyaloka, kawasan Gelora Bung Karno, Senayan. Namun memang, di lokasi latihan yang baru memang tidak seekstrem seperti di Taman Ria Senayan. Namun mau tidak mau, mereka berlatih di Widyaloka agar bisa berlatih rutin.
Sementara untuk mencari tantangan dan medan yang baru, Ino cs mencari alternatif
dengan melompati sejumlah bangunan yang ada di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Setiap Sabtu sore mereka biasanya mencari jalur lompatan di jalan protokol tersebut. Namun traceur yang diajak untuk tracking di Jalan Sudirman adalah yang senior. Sementara traceur junior atau pemula diajak hanya untuk menyaksikan para seniornya beratraksi di gedung yang ada di wilayah itu.
"Kalau para pemula yang melakukan kami khawatir mereka akan cedera. Sebab medan yang akan kami lompati biasanya berubah-ubah setiap minggu. Takutnya mereka tidak mampu dan bikin membuat mereka cedera karena terjatuh atau terpeleset," kata Ino.
Untuk melakukan parkour di gedung-gedung yang terletak di Jalan Sudirman, tentu saja mereka harus meminta ijin dulu kepada satpam gedung. Sebab kalau tidak mereka akan dikejar dan diomeli.
Selain melompati gedung-gedung di jalan itu, para traceur atau traceusse biasanya juga berlatih dengan melompati sejumlah halte TransJakarta. Untuk tantangan ini biasanya mereka lakukan setiap hari Minggu. Alasan mereka, di hari Minggu penumpang TransJakarta sedikit sehingga aksi mereka tidak mengganggu pengguna angkutan masal tersebut.
Saat ini, komunitas parkour di Jakarta berjumlah 200-an anggota. Mereka umumnya
berlatih secara rutin di Senayan. Aldika Vialinata, salah seorang pengurus parkour Jakarta mengatakan, komunitas parkour di Jakarta mulai terbentuk sejak 2004.
"Awalnya yang berlatih hanya beberapa orang saja di Senayan. Tapi lama-lama yang bergabung semakin banyak," ujar mahasiswa Binus semester 6 ini.
Diutarakan Aldika, para parkour di Jakarta maupun di Indonesia umumnya belajar secara otodidak. Mereka hanya mengetahui teknik-tekhnik dan gaya parkour hanya dari Youtube. Tidak ada instruktur yang didatangkan. Selain dari internet, antar komunitas parkour di sejumlah kota, saling mengirim utusan untuk berlatih bersama. Misalnya anggota parkour Jakarta mengirim utusan ke Malang, atau dari Malang datang ke Bandung untuk berlatih bersama.
"Dari latihan bersama tersebut, masing-masing komunitas akhirnya bisa menambah
pengetahuan. Sebab para utusan ini kemudian mengajarkannya ke komunitas mereka,"
kata Aldika.
Rencananya, jelas Aldika, seluruh komunitas parkour di Indonesia akan berkumpul di Bandung pada September 2010 mendatang. Dalam even tersebut, rencananya mereka akan mendatangkan David Belle, sesepuh parkour dari Prancis, untuk berbagi ilmu. Prancis memang dikenal banyak jagoan parkour, salah satunya diangkat menjadi film berjudul 'Yamakasi'.
Copyright from www.detiknews.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar